Rabu, 20 April 2011

tujuan dan hikmah ibadah

Definisi Ibadah
Ibadah dari segi bahasa bererti ”merendah diri, tunduk, patuh dan taat”. Dari segi syara '"ibadah" diartikan sebagai taat, tunduk patuh dan merendah diri sepenuhnya kepada Allah. Sheikh Ibn. Taimiyah pula menyatakan, "Ibadah asal maknanya kehinaan, tetapi ibadah yang diperintah Allah atau yang disyariatkan ke atas manusia mencakup arti kehinaan dan kecintaan bersama yaitu puncak kehinaan diri seseorang bila berhadapan dengan Allah dan puncak kecintaannya kepadanya”.
Ibadat atau Ibadah adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa Arab. Arti kata ini adalah:
1. perbuatan atau penyataan bakti terhadap Allah atau Tuhan yang didasari oleh peraturan agama.
2. segala usaha lahir dan batin yang sesuai perintah agama yang harus dituruti pemeluknya.
3. upacara yang berhubungan dengan agama.

Al-Tabari pula, menjelaskan maksud ibadah yaitu khusu 'kepadanya, merendahkan diri dan tetap hati kepadanya’. Sebagai kesimpulan ibadah berarti mencakup segala hal yang disukai Allah dan diredhaiNya, sama ada keyakinan, sikap, kata, amal perbuatan, zahir atau batin. Dalam kata lain ibadah adalah segala aktivitas manusia lahir dan batin dalam mengerjakan sesuatu hal atau meninggalkannya semata-mata dengan niat mencari keredhaan Allah.
Firman Allah
"Hai orang-orang yang beriman Makanlah rezeki Yang Balk Yang Kami berikan kepadamu. Dan bersyukurlah kepada Allah jika kepadaNya karena beribadah. (Al-Baqarah: 172) 1
"Katakanlah Akan kuberitakan-kepadamu tentang pembalasan Allah yang lebih buruk dari itu yang dikutuki Allah dan dimurkaiAllah, ada yang diadikan-Nya kara, ada yang dijadikan-Nya babi dan menyembah taghut" (Al-Maidah: 60)
"Kepada tiap umat kami utus seorang rasul dengan perintntah ber'ibadah kepada Allah dan tinggalkan taghut (- An-nahl. 36)
"Dan mereka meninggalkan taghut tudak lagi ber'ibadah kepadanya, dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira (Az-Zumar: 17)
Pengertian ibadah menurut alquran
Pengertian ibadah dapat ditemukan melalui pemahaman bahwa :
1. Kesadaran beragama pada manusia membawa konsekwensi manusia itu melakukan penghambhaan kepada tuhannya. Dalam ajaran Islam manusia itu diciptakan untuk menghamba kepada Allah, atau dengan kata lain beribadah kepada Allah (Adz-Dzaariyaat QS. 51:56).
2. Manusia yang menjalani hidup beribadah kepada Allah itu tiada lain manusia yang berada pada shiraathal mustaqiem atau jalan yang lurus (Yaasiin QS 36:61)
3. Sedangkan manusia yang berpegang teguh kepada apa yang diwahyukan Allah, maka ia berada pada shiraathal mustaqiem atau jalan yang lurus (Az Zukhruf QS. 43:43).
Dengan demikian apa yang disebut dengan manusia hidup beribadah kepada Allah itu ialah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu berpegang teguh kepada wahyu Allah. Jadi pengertian ibadah menurut Al Quran tidak hanya terbatas kepada apa yang disebut ibadah mahdhah atau Rukun Islam saja, tetapi cukup luas seluas aspek kehidupan yang ada selama wahyu Allah memberikan pegangannya dalam persoalan itu.
Itulah mengapa umat Islam tidak diperkenankan memutuskan suatu persoalan hidupnya sekiranya Allah dan Rasul-Nya sudah memutuskan perkara itu (Al Ahzab QS. 33:36)

URGENSI IBADAH
1. Ibadah merupakan tujuan yang dicintai dan diridhoi Alloh dan sebagai tujuan penciptaan Jin dan Manusia / MakhlukNya (QS. 51:56)
2. Alloh mengutus para Rasul dengan Risalah Ibadah (QS. 7:59, 16:36)
3. Alloh mencela orang-orang yang enggan melakukan ibadah (QS. 40:60)

DASAR-DASAR IBADAH
1. Cinta, maksudnya cinta kepada Alloh dan Rasul-Nya yang mengandung makna mendahulukan kehendak Alloh dan Rasul-Nya atas yang lainnya. Adapun tanda-tandanya :
a. Mengikuti sunnah Rasulullah SAW
b. Jihad di jalan Alloh (berusaha sekuat tenaga untuk meraih segala sesuatu yang
dicintai Alloh ).
2. Takut, maksudnya tidak merasakan sedikitpun ketakutan kepada segala bentuk dan jenis makhluk melebihi ketakutannya kepada Alloh SWT (QS 3:175)
3. Harapan, maksudnya seorang hamba dituntut untuk selalu berharap kepada Alloh dengan harapan yang sempurna tanpa pernah merasa putus asa.


Ibadah dalam Islam
Ibadah dalam Islam sangat berbeda dengan Konsep dan agama atau kepercayaan lain. Ibadah bukan perbuatan mengasingkan diri, menolak dan meninggalkan kehidupan dunia sebagaimana yang dipelopori oleh golongan "asceiimo". Ibadah juga bukan terbatas pada tempat-tempat tertentu atau hanya dilakukan melalui perantaraan orang-orang yang tertentu atau dewa-dewa yang dipilih dan dibuat khusus untuk tujuan ini, tanpa mereka amalan seseorang itu tidak akan diterima. Konsep-konsep seperti ini tidak ada tempat langsung di dalam syariat Islam.
Namun, pengaruh konsep asing ini dapat juga menyerap ke dalam kehidupan sebagian besar umat Islam. Karena itu timbullah berbagai tanggapan terhadap ibadah, ada yang menganggap ibadah itu tertumpu kepada shalat, puasa, haji dan zakat saja, ada juga mereka yang mengaku beribadat kepada Allah tetapi ubudiah mereka juga diberikan kepada selain Allah. Malah ada yang berpendapat bahwa ruang lingkup ibadah itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan masyarakat terutama di bidang politik.
Ibadah dalam Islam merupakan puncak dari perasaan tunduk dan patuh kepada Allah dan klimaks dari perasaan yang merasakan kebesaran Allah sebagai tempat pengabdian diri. Ibadah juga merupakan tangga penyambung antara akhlak dan penciptanya. Selain dari itu ibadah mempunyai kesan yang mendalam antara hubungan makhluk dan penciptanya.
Sebenarnya Islam telah meletakkan ibadah di tempat yang paling istimewa sekali di dalam Al-Quran, di jelaskan bahwa seluruh jin dan manusia dijadikan semata-mata untuk tujuan ini. Islam juga telah memberi pengertian yang luas terhadap ibadah. Tegasnya Islam menuntut supaya seluruh kehidupan ini dapat ibadah dan taat kepada Allah. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah : Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah:
[Surah Az Zuriai 50 57]
Maksudnya: Dan Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Aku
Ruang lingkup ibadah
Islam memiliki keistimewaan dengan menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai 'ibadah apabila ia diniatkan dengan penuh ikhlas karena Allgh demi untuk mencapai keridaan-Nya serta dikerjakan menurut cara-cara yang disyari'atkan oleh-Nya. Islam tidak menganggap 'ibadah-'ibadah tertentu sahaja sebagai amal salih malah ia meliputi segala kegiatan lain sebagaimana firman Allah: Islam tidak menganggap 'ibadah-'ibadah tertentu sebagai amal Salih malah ia meliputi segala kegiatan lain sebagaimana firman Allah:
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timor dan barat itu suatu kebaktian akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah kebatian orang yang beriman kepada Allah Hari Berikutnya, malaikat-malaikat kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta dicintai kepada kerabatnya, anak-anak yatim orang- orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendinkan salat dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, pendentaan dan dalam peperangan . Mereka, Itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah: 177)

Firman Allah
"Yang demikian itu adalah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan, kemarahan orang-.Orang kafir dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal Salih Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik Dan tidak mereka menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah melainkan dituliskan bagi mereka ('amal Salih pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang tinggi dari apa yang telah mereka kerjakan. - (At-Taubah: 120-121)
Ada seorang bertanya kepada Rasulullah (saw):
"Betapa besarkah pahala orang yang berjihad itu.?" Jawab Rasulullah (saw):
“Kamu tidak terdaya melakukannya (di luar medan jihad Perbandingan orang yang berjihad pada jalan Allan ialah seperti seorang yang berpuasa, bangkit malam (untuk salat khusyuk membaca ayat-ayat (Al-Our'an) tidak terhenti henti mereka dari puasa dan salat sehingga kembali orang-orang yang berjihad itu ke rumah "Kamu tidak terdaya melakukannya (di luar medan jihad Perbandingan orang yang berjihad pada jalan Allan ialah seperti seorang yang berpuasa, bangkit malam (untuk salat khusyuk membaca ayat-ayat (Al-Our'an) tidak terhenti henti mereka dari puasa dan salat sehingga kembali orang-orang yang berjihad itu ke rumah
(Bukhari Muslim, tirmidhi Nasai Ibn Majah)
Dari nash-nash di atas nyatalah bahwa kegiatan-kegiatan taqwa yang dikerjakn oleh seseorang seperti salat puasa dan zikir belum memadai untuk menjadikan ia sebagai seorang Muslim yang Salih. \ Seorang muslim yang Salih itu adalah seorang yang menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada Allah Ini berarti ia menjadikan seluruh masa dalam hidupnya dan setiap tindakannya sebagai sesuatu yang ditujukan untuk mendapatkan keridaan Allah itu tidak ada ruang-ruang di dalam hidupnya dan tidak ada sesuatu pun dari perbuatannya yang luput dari patuh mengikuti ketentuan-ketentuan tertentu oleh Allah.
Demi tujuan ini ia menyerahkan sepenuh hidupnya kepada Allah ia rela untuk mengorbankan apa saja yang ada padanya walaupun ini berarti harta benda yang paling dikasihi dan jiwanya sendiri. Itulah sebabnya perbedaan seorang yang berjihad di jalan Allah bagi membentuk masyarakat yang Salih dengan seseorang yang membatasi kegiatan 'ibadahnya kepada bidang-bidang tertentu saja jauh sekali Orang yang pertama lebih tinggi martabatnya dan lebih hampir kepada Allah.' Dari sini jelaslah bahwa islam tidak membatasi ruang lingkup 'ibadah kepada sudut-sudut tertentu. Tetapi Islam menetapkan seluruh kehidupan manusia adalah kolom 'amal dan persediaan pasokan bagi para mu'min sebelum mereka kembali berhadapan dengan Allah di Hari Pembalasan nanti.
Hakikat ini ditegaskan oleh Al-Qur'an sebagai:
“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik 'amalannya. "(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik 'amalannya. Dan Dia maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dan Dia maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 2)
Apa saja kegiatan dan perbuatan yang dilakukan oleh seorang muslim dengan penuh ikhlas untuk mendapatkan keridhaan Allah serta dikerjakan menurut ketetapan-ketetapan syara 'maka ianya dianggap sebagai' ibadah yang dikumpulkan sebagai 'amal Salih
Karena itu ruang lingkup 'ibadah di dalam islam sangatlah luas Ia adalah seluas periode hayat seseorang muslim dan kesanggupan serta kekuatannya untuk melakukan apa saja "amal yang diridai oleh Allah di dalam periode tersebut.
Tujuan Ibadah
1. Takhliyyah / tazkiyatul qolbi yakni kebersihan hati, maksudnya adalah, Ibadah yang kita lakukan, shalat, puasa, Hajji, dlsb. Hendaknya itu semua mampu membersihkan diri kita dari berbagai macam penyakit hati, mampu mensucikan diri kita dari kotoran jiwa, dari virus virus qolbu yang sangat berbahaya dalam kehidupan. diharapkan dengan rajinnya kita shalat maka bersihlah hati kita dari sifat sombong, dengan seringnya kita puasa maka hilanglah penyakit serakahnya, dengan banyaknya berzakat / shadaqoh berkuranglah bakhil, kikir dan pelit dalam hati kita. coba kita perhatikan, didalam Al-Quran surah al-Maa’uun diterangkan, فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ , Celaka bagi orang shalat !, Siapa itu orang yang shalat juga tapi celaka juga ???, ayat selanjutnya menjelaskan, orang shalat bisa celaka salah satu penyebabnya adalah اَلَّذِيْنَ هُمْ يُرَائُوْنَ yaitu orang yang sholat tapi masih memiliki penyakit hati yang bernama Riyaa’, suka pamer.
Didalam kitab at-Targhib wat-Tarhib buah pena Al – Imam Zakiyyuddin al-Mundziri, disitu ada sebuah hadits qudsi yang menerangkan bahwa salah satu ciri orang yang sholatnya diterima oleh Allah adalah :
وَلَمْ يَسْتَطِلْ بِهَا عَليَ خَلْقِي 
“ Mereka tidak menyombongkan diri kepada Makhluq-Ku “


Makna essensilnya adalah shalat seseorang akan diterima oleh Allah SWT. ketika orang tersebut hatinya bersih dari penyakit yang bernama sombong.
Disisi lain, lebih jauh dari itu, kebahagiaan kita di akhirat kelak, pada hari dimana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah, akan sangat sangat ditentukan oleh kwalitas kebersihan hati itu.
“ Pada hari dimana tidak lagi berguna harta kekayaan, tidak lagi bermanfaat anak keturunan, kecuali mereka yang datang keharibaan Allah dengan membawa hati yang bersih “. ( Assyu’ara : 88 – 89 )
2. Tahliyyah. tujuan dari pelaksanaan ibadah kita adalah, hiasan Akhlaq dan budi pekerti. pesan moralnya adalah, Ibadah yang kita lakukan harus mampu menumbuh kembangkan sikap dan perilaku yang baik dalam kehidupan. semestinya, dengan sering dan rajinnya kita shalat, maka muncullah ketawadhu’an dalam pergaulan, dengan seringnya kita puasa, maka tumbuhlah sifat pemaaf kita, tambah sayang kepada fakir miskin, dst.
Ciri-Ciri 'Ibadah Dalam islam
1. Ibadah hanya dikerjakan semata-mata karena Allah
Al-Quran menitikberatkan bahwa 'ibadah itu hendaklah dilakukan karena Allah semata. Firman Allah:
"Dan Rabmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia (Al-Isra '23.)
“Ia telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia. "Ia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. (Yusuf 40)
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (An-Nisa '36)
"Mereka tetap menyembah Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Ku, (An-Nur 55)
"Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-Nya maka hendaklah ia mengerjakan 'amal yang Salih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (Al-Kahfi: 110)
Oleh itu segala tindakan yang dilakukan oleh manusia harus diniatkan semata-mata karena Allah. Untuk mengontrol dasar dan kebijakan ini, Islam melarang setiap perbuatan atau tindakan yang bisa mendatangkan maksud penyembahan sesama manusia atau pun membuka jalan untuk menyesatkan pengertian 'ibadah yang semestinya dikhususkan hanya kepada Allah.
2. Hubungan langsung antara hamba dan Penciptanya.
Dalam islam hubungan bisa dilakukan oleh seorang hamba dengan Allah secara langsung. 'Ibadah di dalam islam tidak berhajat adanya orang tengah sebagaimana yang terdapat pada setengah-setengah agama lain. Begitu juga tidak ada dalam Islam tokoh tertentu yang mendirikan satu lapisan khusus yang dikenal dengan nama tokoh-tokoh agama yang menjadi orang-orang perantaraan antara orang ramai dengan Allah.
Di dalam Islam peranan para 'ulama' dan fuqaha 'hanyalah untuk mengkaji dan menyelilidiki hukum-hukum syara' serta mengajarkannya kepada orang banyak. Peranan mereka bukan untuk mengampuni dosa atau mengkabulkan doa seseorang kepada A11ah sebagaimana yang terdapat pada setengah-setengah agama lain. '
3. Melambangkan khudu 'الخضوع)) yang penuh dan keta'atan yang mutlak kepada Allah
'Ibadah dalam Islam melambangkan khudu' atau ketundukan seseorang sepenuhnya kepada Allah dan keta'atannya yang mutlak terhadap-Nya. Karena itu dalam bidang 'ibadah khusus itu bersifat taufiqiyyah; yaitu ia dilaksanakan menurut garis-garis yang ditunjukkan oleh Rasululullah (saw) dan berhenti setakat sempadan yang telah ditentukan oleh syara' dan sebagaimana yang telah dilakukan sendiri oleh Rasulullah (saw). Tidak dapat ditambahkan atau dikurangi atau membuat perubahan terhadapnya. Sabda Rasulullah (saw):
"Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat." (Bukhari)
"Ambillah kamu daripadaku cara-cara (manasik) ibadah haji kamu." (Bukhari)
Ada pun untuk 'ibadah-'ibadah umum ketundukan dan kepatuhan ini dapat dilaksanakan dengan benar-benar mencontoh Rasulullah (saw) dalam seluruh jalan kehidupan. Ini berdasarkan firman Allah
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan (kedatangan) Hari Qiyamah dan dia banyak menyebut Allah (Al-Ahzab 21)
Firman Allah
"Katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah ikutilah situ, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (Ali-'Imran 31)
Firman Allah
"Apa yang diberikan rasul kepada maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (Al-Hasyr: 7)
Kepatuhan mengikuti apa yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah (saw) berarti seseorang itu telah menundukkan dirinya mematuhi dan menta'ati perintah Allah di dalam ia melakukan segala 'ibadah di dalam kehidupan.
'Segala perkara atau' amal selain dari grup 'ibadah khusus di atas yang dilakukan semata-mata untuk mencari kkeredaan Allgh. Ini termasuk seluruh perbuatan manusia dalam kehidupan hariannya.
Ruang lingkup 'Ibadah yang luas Ruang lingkup 'Ibadah yang luas
Ruang lingkup 'ibadah di dalam Islam amat luas sekali. Itulah mencakup setiap kegiatan kehidupan manusia. Setiap apa yang dilakukan baik yang bersangkut dengan individu maupun dengan masyarakat adalah 'ibadah menurut islam selagi mana ia memenuhi persyaratan tertentu.
Ketentuan tersebut adalah sebagai berikut :
i. 'Amalan yang dikerjakan itu hendaklah diakui islam sesuai dengan hukum-hukum syara' dan tidak bertentangan dengan hukum-hukum tersebut. Adapun 'amalan-'amalan yang diingkari oleh Islam dan ada hubungan dengan yang haram dan ma'siat, maka tidaklah sekali-kali ia dijadikan' amalan 'ibadah.
ii. 'Amalan tersebut dilakukan dengan niat yang Balk bagi tujuan untuk memelihara kehormatan diri, menyenangkan keluarganya, memberi manfa'at kepada umat seluruhnya dan bagi mema'murkan bumi sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah.
iii. 'Amalan tersebut harus dibuat dengan sebaiknya bagi menepati apa yang ditetapkan oleh Rasulullah (saw):
“Bahawa Allah suka apabila seseorang dari kamu membuat sesuatu kerana dengan memperelokkan kerjanya. "Bahwa Allah suka apabila seseorang dari kamu membuat sesuatu karena dengan membaguskan kerjanya. “ (Muslim)
iv. Ketika membuat 'amalan tersebut hendaklah Sentiasa menurut hukum-hukum syara' dan ketentuan batasnya, tidak menzalimi orang lain, tidak khianat, tidak menipu dan tidak menincds atau merampas hak orang.
v. Tidak mencuaikan 'ibadah-'ibadah khusus seperti salat zakat dan sebagainya dalam melaksanakan' ibadah-'ibadah umum
Firman Allah
"Hai orang-orang yang beriman janganlah harta dan anak-anak kamu melalaikan kamu dari mengingat Allah batangsiapa berbuat demikian maka mereka sebenarnya orang-orang yang merugi. “ (Al-Munafiqun 9)
Firman Allah
"Lelaki-lelaki yang tidak dilalaikan oleh pemiagaan ataujual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat dan menunaikan zakat" (An-Nur: 37)
Jadi, bila saja seorang mu'min dapat menyempurnakan kelima syarat di atas dalam mengendalikan segala pekerjaan dan urusan hidupnya setiap hari, maka dia akan dihitung selalu ber'ibadah kepada Allah meskipun dia tidak duduk di dalam masjid ketika membuat kerja-kerja tersebut.
Tidak torkongkong di suatu tempat perlbadatan saja.
Di dalam Islam implementasi 'ibadah tidak berlaku untuk tempat-tempat tertentu. Seluruh bumi Allah adalah tempat ber'ibadah bagi para mu'min. . .
Firman Allah
Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali) setelah dibangkitkan. “ (Al-Mulk: 15)
Di dalam Islarn ibadah bisa dilakukan di mana-mana saja karena di mana saja seseorang berada, hubungannya adalah terus kepada Allah Islam menganggap seluruh bumi sebagai masjid kecuali tempat-tempat yang najis dan kotor Itulah sebabnya Rasulullah (saw) salat di mana-mana saja beliau berada sama ada di tengah-tengah padang pasir atau di atas kendaraannya.
Pembagian Ibadah:
A 1. Ibadah Khusus : Ia adalah sekelompok perintah yang wajib dilakukan sebagaimana terkandung dalam rukum Islam dan juga seumpama seperti sembahyang, puasa, zakat, haji, tilawatul Quran, zikir dan sebagainya.
2. Ibadah Umum : Segala perkara atau pekerjaan selain dari yang tersebut di atas yang dilakukan semata-mata untuk mencari keredhaan Allah.
B. 1.Ibadah Badaniah: tubuh seperti shalat, menolong orang dalam kesusahan dan lain-lain.
2.ibadah Maliyah : harta benda seperti zakat, memberi sedekah, derma dan lain-lain.
3. Ibadah Qalbiyah : hati seperti sangka baik, ikhlas, tidak hasad dengki dan lain-lain.
C.1 Ibadah Ijabiyah : positif yaitu perintah amal
2. Ibadah Salbiyah : negatif yaitu perintah tinggal
Ketentuan Pekerjaan / Praktik Menjadi Ibadah
Sesuatu pekerjaan atau amalan itu bisa dijadikan sebagai ibadah kepada Allah jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Orang yang melakukan harus beragama Islam.
2. Amalan yang dikerjakan itu hendaklah diakui Islam. Sesuai dengan hukum syariah dan tidak bertentangan dengan hukum-hukum tersebut. Adapun praktek yang diingkari Islam seperti pekerjaan yang ada hubungannya dengan riba, tari menari, hal-hal maksiat dan sebagainya, tidaklah sekali-kali menjadi ibadah. Allah bersifat bersih dan baik, tidak menerima amalan yang kotor kecuali yang baik dan bersih saja.
3. Praktek itu dikerjakan harus dengan niat yang baik. Baik untuk memelihara kehormatan diri atau menyenangkan keluarganya atau memberi manfaat kepada umatnya atau untuk memakmurkan bumi Allah sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah.
4. Saat membuat pekerjaan tersebut harus selalu menurut hukum-hukum syariat dan batasnya, tidak menzalimi orang, tidak menipu, tidak menindas atau mencampur hak orang.
5. Segala pekerjaan duniawi itu tidak melalaikan dan mencuaikan dari melaksanakan kewajiban ibadah. Khususnya seperti shalat, puasa dan sebagainya sesuai dengan firman Allah:
Maksudnya:
Hai orang-orang yang beriman janganlah hendaknya harta dan anak pihak itu melalaikan kamu dari mengingatkan Allah. Barang siapa berbuat demikian maka mereka sebenarnya orang-orang yang merugi.
Jadi, bila saja seorang mukmin dapat menyempurnakan syarat-syarat di atas dalam mengendalikan segala pekerjaan dan urusan hidupnya setiap hari dia adalah dihitung banyak bertasbih kepada Allah meskipun dia tidak duduk di Masjid atau di surau ketika membuat kerja-kerja itu.
Hikmah Ibadah
1. Ibadah dalam Islam adalah merupakan makanan atau riadhah ruhi sebagaimana jasad memerlukan makan dan minuman.
2. Untuk memerdekakan diri manusia dari menghambakan diri kepada sesuatu makhluk selain Allah.
3. Untuk memberikan suatu keyakinan dan tempat ketergantungan sebenarnya yang telah menjadi fitrah atau tabi'at alami manusia.
4. Untuk mengembalikan dan menempatkan manusia itu di tempat fitrahnya yang benar sebagai hamba Allah Taala.
5. Ibadah merupakan ujian Allah kepada hambanya dalam seluruh hidupnya.
6. Ibadah pula suatu garis pemisah yang membedakan antara Islam dengan kafir dan antara manusia dengan makhluk lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar